January 25, 2010

Doki Doki Ai Shiteru Yo part 5

Starring: Versailles
Rating: PG-13
Genre: AU, Romance
Disclaimer: I dont own them, but this story is pure made by me

~~~

"Hichan~"

"Aku tidak mau!"

Hizaki mempercepat larinya sambil menyeret Kamijo yang malas-malasan. Si ketua kelas mengejar mereka yang kini ada di halaman sekolah. Saat jaraknya sudah dekat, dia lalu menarik lengan Hizaki.

"Aduh~" lirih Hizaki. Mendengarnya, Kamijo langsung menarik kerah baju si ketua kelas.

"Lepaskan dia!" geramnya datar.

"Ka, Kamijo?" ujar ketua kelas berkaca-mata itu kaget. Hizaki yang juga kaget, kontan menggenggam lengan Kamijo.

"Kamichan!" Kamijo menoleh kearah Hizaki, lalu melepaskan lelaki itu.

"Maaf, You. Kamichan tidak suka aku kesakitan." ujar Hizaki merasa tidak enak.

"Ah, tidak. Aku yang salah. Oya, kalau kau tidak mau pakai kostum kelinci itu tidak masalah sih, biar Hiropon saja yang pakai, dia lebih cocok." kata You.

"Benarkah? Syukurlah, mengerikan sekali memakai kostum seperti itu. Eh, Kamichan! Kau mau kemana?"

Yang ditanya hanya terus berjalan dan memutar-mutar kunci mobil di jari telunjuk kanannya tanpa menjawab bahkan menoleh sedikit pun. Hizaki hanya bisa mendengus melihat kelakuan pengawalnya yang kelewat dingin itu.

"Ng, Kamijo sedikit mengerikan, ya." ujar You.

"Haha, tidak kok. Dia hanya kurang berekspresi, seperti kakek-kakek kesepian." kata Hizaki.

"Oya, memangnya Pon mau pakai kostum kelinci sexy itu?" sambungnya. You hanya menghela nafas.

"Kami memaksanya. Dia sampai ngamuk-ngamuk tadi, tapi akhirnya mau juga. Oya, kau mau kan mewakili kelas kita?"

"Eh? Mewakili apa?"
"Dansa." jawabnya mantap. Hizaki terlihat ragu.

"Sebenarnya, aku tidak bisa dansa. Tapi, baiklah. Terus siapa yang jadi pasanganku?"

"Dia." jawab You tersenyum sambil menunjuk seseorang yang sedang mengobrol dengan teman sekelas mereka dibangku halaman sekolah.

"Hah! Miyavi?!"

***

Bunyi gemericik sendok dan garpu berdentang di ruang makan keluarga Camui. Beberapa pelayan hilir-mudik untuk mengantarkan makan malam mereka, hidangan penutup dan tentu saja minuman.

"Ayah!" seru Hizaki, menolehkan kepala kesisi kanannya, dia duduk disebelah kiri Gackt. Sementara Ibunya-Ayumi-duduk di sebrangnya, samping kanan Gackt.

"Ada apa?" tanya Gackt, mengambil gelas berisi air mineral, dan menegaknya.

"Apa- apa Ayah ada kenalan seorang guru dansa? Disekolah ada festival, dan aku- aku akan dansa nantinya." kata Hizaki malu-malu.

"Nee~ Jadi anak Ibu yang manis ini akan dansa, ya? Siapa pasanganmu?" Gackt sedikit tertawa mendengar ucapan Ayumi.

"Ah, Ibu~ Aku kan tidak bisa. Bagaimana ini? Mana pasanganku itu sangat hiperaktif lagi."

"Tenang, Hichan. Besok, Ibu akan panggil teman lama Ayahmu kemari." kata Ayumi tersenyum manis. Gackt menoleh kearahnya menaikkan sebelah alisnya.

"Temanku? Siap- tidak! Jangan dia, Ayuchan~" Gackt mendadak panik.

"Kau mau anak kita malu karena tidak bisa dansa? Baka!"
"Tapi~" Gackt mulai merengek, membuat Hizaki menahan tawa.

Ya, sulit memang kalau tidak tertawa melihat kenyataan bahwa Ayahnya yang notabene pemimpin Yakuza sekaligus pengusaha besar yang tampan dan elegan itu, merengek pada Ibunya.

"Memang siapa dia, kaa-san?" tanya Hizaki.

"Paman Sugizo. Tapi dalam kasus ini, jadi Sugizo-sensei."

"Kau menyebut namanya!" kata Gackt.

"Lalu?"

"Kau tau itu tabu!"

"Ayolah Gacchan. Kau bukan anak kecil lagi, kan?"

Gackt mengerutkan dahi sambil menggigiti bibir bawahnya melihat Hizaki yang memberinya tatapan mengiba dan Ayumi yang memberinya senyuman malaikat. Dia pun hanya bisa menghela nafas, dan mengangguk terpaksa.

"Yatta~" kata Hizaki dan Ayumi kompak.

"Wah~ lega rasanya. Kapan Sugizo-sensei akan mengajariku dansa?" kata Hizaki sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, membusungkan dadanya.

"Besok~"

"Taun depan!" Ayumi dan Gackt memberi jawaban bersamaan.

"Maa, maa~" Hizaki melerai kedua orang tuanya yang masing-masing sudah mengeluarkan aura kelam.

"Aku sudah ngantuk, Oyasumi~" sambung Hizaki sambil bangun dari duduknya, dan mencium pipi Gackt yang masih cemberut. Lalu menghampiri Ayumi, dan mencium pipinya.

"Oyasumi." kata Ayumi. Hizaki pun keluar dari ruang makan, meninggalkan kedua orang tuanya.

Ayumi beranjak dari kursinya, dia lalu mencubit hidung mancung Gackt.

"Kau kekanakkan sekali, Gacchan." katanya tertawa. Gackt pun tersenyum simpul dan bangun dari duduknya, dia memberi ciuman singkat dibibir Ayumi.

"Aku rasa, aku akan sial besok." katanya.

"Baka!"

***

"Yuu?" Hizaki memanggil lemah nama seseorang dengan mata tertutup dikamarnya yang gelap dan hangat, tubuhnya yang terbalut selimut pun berkeringat.

Seorang pemuda yang sedari tadi berdiri mengamatinya, kini duduk diranjang, lalu menyentuh pipi mulus Hizaki perlahan.

"Maaf, yuu~ Maaf~" rintih Hizaki, butiran air mata kini meluncur dari matanya yang terapit kelopak pelindung yang tertutup rapat.

"Sssh~ tidurlah manis~" pemuda itu masih menelusuri pipi mulus Hizaki dengan jemarinya yang kini turun ke leher milik Hizaki. Dia membenamkan wajahnya ke leher jenjang itu.

"Tidurlah selamanya!" bisik pemuda itu dengan nada yang jauh berbeda, dingin, datar dan kejam sambil berseringai.

To be continue~

A/N: akhirnya apdet juga ini penpik hehe~ apa ada yg berpikir nista atas scene Hizaki berkeringat? atau cuma mput aja yg lagi echi otaknya~ *plak* XD

January 23, 2010

Trouble Candy part 7

Starring: the GazettE
Ratings: PG
Genre: romance, crack
Disclaimer: I dont own them, but this story is pure made by me

~~~

"Kyaaa~" Ruki berteriak layaknya fangirl yang melihat idolanya nongol dilayar tancep saking kagetnya melihat kelakuan si preman garong.

Kepala Reita yang terhantam botol minuman itu pun mengebul bak asap knalpot vespa babehnya yang tadi pagi mogok disimpang jalan, saking murkanya sama itu preman.

"Berani-beraninya loe!" kata Reita dengan suara rendahnya, sambil berbalik.

BRAAAK!

"Astagpirulloh!" ucap Reita kaget sambil usap-usap dadanya, gara-gara si preman mematahkan kayu pake pahanya yang merusak pemandangan itu.

"Gede juga lu punya nyali." lanjut Reita sok iyey. Ruki sudah berkeringet dingin, dia berdiri sambil tetap bersandar ke tembok renta itu.

"Ruki!" Reita memanggil Ruki tanpa menoleh.

"H-hai."

"KABUUUR!" teriak Reita yang dalam hitungan sepersekian detik langsung ngibrit secepat kuda mini yang bernama Makibou. Mukanya pun sudah hampir mirip, sayangnya Makibou yang satu ini ga dikaruniai hidung :D

Ruki yang kaget, kontan ga pake ngutang langsung mengikuti gerak langkah nista seorang Reita yang uda ngibrit nun jauh kesana.

"Reita~ Tunggu~" Ruki berusaha mengambil nafas disela-sela larinya, membuat hidungnya mekar merekah dan merona layaknya kue apem.

"AWAS KALO LU PADA BERANI KESINI LAGI!" teriak si preman pake toak mesjid. Dan teriakan maut tadi membuat dua mahluk tuhan yang paling naas itu mempercepat ngibritnya.

Reita yang sudah melewati tikungan tajam, mendaki gunung, lewati lembah pun berhenti berlari, menopang badannya dengan tangan yang menempel ke lutut.

"Hosh~ hosh~" begitulah bunyi nafas seekor Reita.

"Mimpi apa gue semalem ampe adu jotos sama preman kampung Cihuahua?" gumamnya mesem.

"Reitaaa~"

Mendengar namanya dipanggil, dia pun berbalik dan mendapati pemuda mini lagi ngebut-ngebutnya lari nyamperin dia.

"Huwaaa! Ngapain lu ngejar gue?" Reita ikut-ikutan teriak dan langsung tancap kaki.

"Gue ga bisa ngerem!" Ruki balas teriak.

Mereka pun berlari dan berlari sampai tiba-tiba terdengar bunyi lagu Kuch Kuch Hotta Hei mengalun dengan sadisnya dari sebuah rumah di komplek itu, membuat Reita yang memang penggemar Indihe pun menghentikan langkahnya. Dia lalu pasang pose bak Rahul di video klip itu lagu sambil muter-muter lebay dan berdendang dengan suaranya yang pas-pasan. (Reita: *gaplok mput pake bibir* :D)

"Tumpa seaye, yumush kuraye, tumnena janekya, sabeto mera-"

BRUUUK!

"Aaaw~" rintih Reita yang badannya ditimpa Ruki. Yang nimpa malah ga tau diri, nemplok aja terus disitu.

"Woi! Sampe kapan lu mau menclok di badan gue?!" tanya Reita galak sambil mengusap kepalanya yang uda ditoyor botol, nyium tanah pula.

"Go- gomen." kata Ruki cepat-cepat bangun dari singgasananya tadi. Reita pun duduk di jalanan komplek itu.

Mereka cuma duduk diem, ga ngomong apa-apa. Yang terdengar hanya lagu Kuch Kuch Hotta Hei tadi yang sekarang bunyinya udah kayak di remix, gara-gara kasetnya rusak.

"Ano, Reita. Makasi uda tolongin gue." kata Ruki malu-malu.

"He? jangan mimpi deh, lu. Gue ga niat tuh nolongin lu. Udah sana pulang!" jawab Reita jutek sambil ngibasin tangannya suruh Ruki pulang.

"Itu sakit ga?" tanya Ruki yang keukeuh aja pengen ngobrol sama si Kang Mas Reita.

"Apaan?"

"Ini." jawab Ruki sambil mengusap kepala Reita.

"Ja-jangan pegang-pegang!" Reita menghempaskan tangan Ruki kasar. Muka Reita sedikit memerah.

"Maaf." kata Ruki menundukan wajahnya.

Reita menggaruk kepalanya yang penuh dengan hama para kutu itu, baru pertama kali kepalanya diusap oleh cowok dengan lembutnya. Reita pun menatap Ruki yang masih menunduk. Lama, lama dan lama dia menatap Ruki sampe author capek nunggunya.

"Re- Reita?"
"Hmm?"
"Jangan deket-deket." kata Ruki pelan sambil menggigit bibir bawahnya yang ga kalah mungil dari badannya.

Reita yang arwahnya uda balik dari kayangan pun dengan secepat kilat menarik wajahnya yang tadi cuma beberapa inchi dari Ruki. Ruki hanya menatapnya heran, memiringkan kepalanya 45 derajat, dan pasang pose malaikat.

"Lu pulang sana! Jangan ganggu gue lagi!" kata Reita galak.

Ruki menghela nafas, lalu bangun dari duduknya dan jalan terseok-seok memprihatinkan. Reita menatap punggung kecil yang putih halus tanpa busana itu sambil ngiler.

"Woy!" seru Reita, buru-buru mengusap ilernya pake daun mangga yang berguguran. Ruki pun berbalik menatapnya.

Reita lalu bangun dan menghampiri pemuda boncel itu. Dia membuka jaketnya dan memakaikannya pada Ruki.

"Eh?" belum sempat Ruki bicara, Reita sudah memotongnya.

"Balikin besok! kudu bersih, wangi dan bebas dari noda membandel!" kata Reita, lalu ngeloyor pergi berlawanan arah dengan Ruki. Ruki tersenyum simpel, sambil merekatkan jaket Reita ke badannya.

"Arigatou, Reita."

To be continue~

A/N: akhirnya seorang vamput ada ilham buat nerusin ini penpik hiks *nangis terharu* XDD
douzo~

December 13, 2009

I love you and nyappy birthday hide-sama, kyaaaa :)

NYAPPY NYAPPY NYAPPY BIRTHDAY MY HIDE-SAMA :D

hari ini suami mput nyang pertama yang bukan lain dan bukan sama adalah hide-sama ntu ulang taon *kissu kissu jauh buat hide* XD berarti sekarang hide umurnya uda 45 taon, horeee. daripada jadi suami ko, lebih cocok jadi babeh yak? aaaa, peduli ah. nyang penting hide-sama ayloplop XDD

karena ini hari spesialnya hide, mput hari ini dengernya lagu hide sama X japan mulu huweee~ hide, lagi apa disana? kangen ga sama mput? eh, bang tor tor cemburu yak? *lirik bang tora yang siap harakiri* XDDD

sedih dah hari ini, pas tadi denger lagu2 ballad, mput nangis termehek mehek DX seandainya hide masih ada, ulah apalagi yak nyang ntu orang lakuin? hiks hiks, hideeee we miss you T.T

oya, tadi mput baru aja launching penpik baru judulnya Promise, hehe. kampungan yak judulnya perasaan XDD biarlah nyang penting penpiknya buat hide :D

segmen cyurhat ~~>

aaaa, sayah makin sebel sm ACAR. pengen makan dia ihhh~ sebeeeel sebeeeel T.T oya, kemaren si Cucha nelfon, katanya mau pulang bandung tgl 23 haha. minta oleh2 aaa, dia pan uda janji XDD

terus rencananya nanti taun baruan mau sama anak2 Pirates, gyaaaa~ kangeeen hehe. moga jadi dah yak XD yasudalah, mput sekseh ini mau tidur siang dulu hahay. jyaaaa minna~ *lambe2 kaos bang tor tor* XDD

mood: happy happy
location: hide no heya :P
music: Electric Cucumber - Zilch (hide's american band)

Promise part 1

Starring: X Japan
Pairing: hide x OFC
Rating: PG-15
Genre: AU, Angst, Death fic, a bit humor
Disclaimer: I dont own them, but this story is pure made by me

~~~

"Baka! Kenapa kau lakukan ini padaku? Dasar bajingan! sialan! Brengsek!"

Gadis berambut sebahu itu berjalan lunglai di tengah malam sendirian, lalu menendang sekuat tenaga kaleng minuman bekas yang terdampar di hadapannya.

KLONTANG CKIIIIT BRUUUK!

"Eh?" gumamnya.

Dia lalu mengangkat wajahnya dan melihat mobil yang menabrak tempat sampah di ujung jalan, agak jauh dari tempatnya. Dia pun berlari kesana untuk menolong orang yang ada di dalam mobil itu. Saat jaraknya sudah tak seberapa jauh, dia melihat seorang pemuda keluar dari mobil dan memegang kepalanya yang tadi menghantam setir. Dia kini berjalan untuk menghampiri pemuda itu.

"SIAPA YANG MENENDANG KALENG SIALAN ITU?!" teriaknya.

"Mati aku!" Gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk menolong pemuda yang berteriak tadi. Tidak butuh dua detik baginya untuk mengerti keadaannya, siapa lagi yang menendang kaleng tadi selain dia. Tidak ada orang lain disini. Dia pun berbalik dan sedikit berlari.

"Hey! Kau ya?! Jangan kabur kau!" teriak pemuda tadi lalu mengejar gadis itu.

Si gadis menoleh ke belakang dengan kaget lalu menambah kecepatan larinya, tapi pemuda itu lebih cepat untuknya. Dia menarik tangan gadis itu, dan membalikkan badannya. Terlihat raut ketakutan di wajah gadis yang manis itu.

"Kumohon, jangan sakiti aku." pintanya.

"Kau yang melempar kaleng tadi?!" tanya pemuda itu galak.

"Ma- maafkan aku."

"Kau harus tanggung jawab, mobilku penyok, tau!"

"Apa?! Apa Kau tega meminta pertanggungjawaban dari gadis yang baru saja patah hati ini?! Dasar kau, kepala laba-laba! Tidak berperasaan!"

"Apa?! Kau panggil aku apa?" tanya pemuda itu tak percaya.

"Kepala laba-laba. Apa kau tuli? Rambutmu aneh, tau. warnanya pink lagi! Pasti kau fansnya Hide, kan? Dandananmu mirip sekali. Dasar tukang jiplak!" Pemuda itu mendengus masih memegang lengan gadis itu.

"Aku memang dia!" ujarnya kesal.

"Dia siapa?"

"Hide." Gadis itu tertawa renyah, lalu berhenti tiba-tiba.

"Kau pikir aku percaya padamu?! Mana mungkin kau itu Hide. Aku fansnya! Aku tau mana yang asli dan palsu."

"Eh? Kau fans-ku?" tanya pemuda yang mengaku Hide itu, sambil tiba-tiba tersipu.

"Fansmu dari hongkong? Aku ini fans Hide." kata gadis itu bersikukuh.

"Hide itu aku, aku itu Hide. Aku dan Hide itu orang yang sama, hanya ada satu di dunia. Sekarang kau percaya?"

"Tidak." jawab gadis itu mantap.

"Demi tuhan, sial sekali aku bertemu gadis sepertimu."

Hide lalu melepas pegangannya pada gadis itu. Dan merogoh saku celananya, mengambil dompet, lalu mengeluarkan kartu tanda pengenalnya. Dia memberikannya pada gadis itu yang hanya menatapnya heran.

"Ini, baca saja." gadis itu mengambilnya dan membaca huruf-huruf yang ada disana.

"Matsumoto Hideto." Hide mengangguk mantap dan terseyum menang.

"Sial, kau benar-benar Hide! Kyaaa!" sambungnya lalu memeluk Hide dengan membabi buta sambil melompat-lompat. Mengucapkan kata Hide-sama berulang kali.

"Hentikan itu, hey! Kau gila!" gadis itu melepas pelukannya.

"Oh tuhan, Hide-sama bilang aku gila." Hide mengerutkan dahi.

"Akhirnya aku bertemu juga denganmu, aku belum pernah lihat acara live bandmu." sambungnya.

Lalu dia memeluk Hide kembali yang hanya bisa pasrah. Sampai ada lampu senter menyorot ke arah mereka, dengan gadis itu yang masih ber-kya-kya. Sementara hide mendengus sebal. Mereka kontan menoleh ke arah lampu senter itu.

"Apa yang kau lakukan?" tanya suara berat seseorang, dibalik cahaya yang menyilaukan mata.


Sudah lewat tengah malam, kini Hide tengah duduk dihadapan seorang polisi. Dan di sampingnya duduk seorang gadis yang ia ketahui bernama Sera, saat interogasi tadi.

"Dari tadi kan aku sudah bilang, aku tidak memperkosanya!" kata Hide kesal.

"Maaf, Hide-san, kalian boleh pulang." ujar polisi itu tersenyum, merasa bersalah.

"Membuang waktuku saja." ujar hide mencibir lalu pergi keluar dari kantor polisi begitu saja.

"Hide-sama." Hide berhenti melangkah mendengar suara gadis yang membuatnya sial malam ini.

"Hah?" tanyanya tanpa berbalik. Sera berlari kecil menghampiri Hide, lalu berdiri dihadapannya.

"Gomen, hontou ni gomenasai." Sera membungkuk dalam.

"Lupakan saja kejadian malam ini."

"Tapi-"

"Sudahlah, aku sedang tidak mood." kata Hide nampak risih.

"Kau bilang, aku harus tanggung jawab."

"Tidak usah." jawabnya singkat. Sera nampak kecewa. Hide tau apa yang dikecewakannya.

"Besok bandku tampil di Athena live house. Kau datang saja." sambungnya.

"Ya, kalo aku bisa." kata Sera tersenyum masam.

"Kenapa?"

"Ibuku tidak membolehkanku keluar malam. Kau tau, dia sangat protektif pada anak perempuannya, aku."

"Kau kira sekarang jam berapa?"

"Aku keluar lewat jendela." jawab Sera menertawakan tingkahnya sendiri.

"Kau mungkin harus melakukannya lagi besok." kata Hide tersenyum sambil menepuk puncak kepala Sera, dan pergi begitu saja meninggalkan Sera yang tersenyum senang.

to be continue~

A/N: ini fanfic dalam rangka ulang taunnya hide, yay! tadinya mau dibikin yaoi, tapi hide itu uke bgt T.T gada yg cocok dipairingin sm hide, kalo hidenya dijadiin seme. yauda mput bikin yg HET aja hoho~