Starring: Versailles
Rating: PG-13
Genre: AU, Romance
Disclaimer: I dont own them, but this story is pure made by me
~~~
"Hichan~"
"Aku tidak mau!"
Hizaki mempercepat larinya sambil menyeret Kamijo yang malas-malasan. Si ketua kelas mengejar mereka yang kini ada di halaman sekolah. Saat jaraknya sudah dekat, dia lalu menarik lengan Hizaki.
"Aduh~" lirih Hizaki. Mendengarnya, Kamijo langsung menarik kerah baju si ketua kelas.
"Lepaskan dia!" geramnya datar.
"Ka, Kamijo?" ujar ketua kelas berkaca-mata itu kaget. Hizaki yang juga kaget, kontan menggenggam lengan Kamijo.
"Kamichan!" Kamijo menoleh kearah Hizaki, lalu melepaskan lelaki itu.
"Maaf, You. Kamichan tidak suka aku kesakitan." ujar Hizaki merasa tidak enak.
"Ah, tidak. Aku yang salah. Oya, kalau kau tidak mau pakai kostum kelinci itu tidak masalah sih, biar Hiropon saja yang pakai, dia lebih cocok." kata You.
"Benarkah? Syukurlah, mengerikan sekali memakai kostum seperti itu. Eh, Kamichan! Kau mau kemana?"
Yang ditanya hanya terus berjalan dan memutar-mutar kunci mobil di jari telunjuk kanannya tanpa menjawab bahkan menoleh sedikit pun. Hizaki hanya bisa mendengus melihat kelakuan pengawalnya yang kelewat dingin itu.
"Ng, Kamijo sedikit mengerikan, ya." ujar You.
"Haha, tidak kok. Dia hanya kurang berekspresi, seperti kakek-kakek kesepian." kata Hizaki.
"Oya, memangnya Pon mau pakai kostum kelinci sexy itu?" sambungnya. You hanya menghela nafas.
"Kami memaksanya. Dia sampai ngamuk-ngamuk tadi, tapi akhirnya mau juga. Oya, kau mau kan mewakili kelas kita?"
"Eh? Mewakili apa?"
"Dansa." jawabnya mantap. Hizaki terlihat ragu.
"Sebenarnya, aku tidak bisa dansa. Tapi, baiklah. Terus siapa yang jadi pasanganku?"
"Dia." jawab You tersenyum sambil menunjuk seseorang yang sedang mengobrol dengan teman sekelas mereka dibangku halaman sekolah.
"Hah! Miyavi?!"
***
Bunyi gemericik sendok dan garpu berdentang di ruang makan keluarga Camui. Beberapa pelayan hilir-mudik untuk mengantarkan makan malam mereka, hidangan penutup dan tentu saja minuman.
"Ayah!" seru Hizaki, menolehkan kepala kesisi kanannya, dia duduk disebelah kiri Gackt. Sementara Ibunya-Ayumi-duduk di sebrangnya, samping kanan Gackt.
"Ada apa?" tanya Gackt, mengambil gelas berisi air mineral, dan menegaknya.
"Apa- apa Ayah ada kenalan seorang guru dansa? Disekolah ada festival, dan aku- aku akan dansa nantinya." kata Hizaki malu-malu.
"Nee~ Jadi anak Ibu yang manis ini akan dansa, ya? Siapa pasanganmu?" Gackt sedikit tertawa mendengar ucapan Ayumi.
"Ah, Ibu~ Aku kan tidak bisa. Bagaimana ini? Mana pasanganku itu sangat hiperaktif lagi."
"Tenang, Hichan. Besok, Ibu akan panggil teman lama Ayahmu kemari." kata Ayumi tersenyum manis. Gackt menoleh kearahnya menaikkan sebelah alisnya.
"Temanku? Siap- tidak! Jangan dia, Ayuchan~" Gackt mendadak panik.
"Kau mau anak kita malu karena tidak bisa dansa? Baka!"
"Tapi~" Gackt mulai merengek, membuat Hizaki menahan tawa.
Ya, sulit memang kalau tidak tertawa melihat kenyataan bahwa Ayahnya yang notabene pemimpin Yakuza sekaligus pengusaha besar yang tampan dan elegan itu, merengek pada Ibunya.
"Memang siapa dia, kaa-san?" tanya Hizaki.
"Paman Sugizo. Tapi dalam kasus ini, jadi Sugizo-sensei."
"Kau menyebut namanya!" kata Gackt.
"Lalu?"
"Kau tau itu tabu!"
"Ayolah Gacchan. Kau bukan anak kecil lagi, kan?"
Gackt mengerutkan dahi sambil menggigiti bibir bawahnya melihat Hizaki yang memberinya tatapan mengiba dan Ayumi yang memberinya senyuman malaikat. Dia pun hanya bisa menghela nafas, dan mengangguk terpaksa.
"Yatta~" kata Hizaki dan Ayumi kompak.
"Wah~ lega rasanya. Kapan Sugizo-sensei akan mengajariku dansa?" kata Hizaki sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, membusungkan dadanya.
"Besok~"
"Taun depan!" Ayumi dan Gackt memberi jawaban bersamaan.
"Maa, maa~" Hizaki melerai kedua orang tuanya yang masing-masing sudah mengeluarkan aura kelam.
"Aku sudah ngantuk, Oyasumi~" sambung Hizaki sambil bangun dari duduknya, dan mencium pipi Gackt yang masih cemberut. Lalu menghampiri Ayumi, dan mencium pipinya.
"Oyasumi." kata Ayumi. Hizaki pun keluar dari ruang makan, meninggalkan kedua orang tuanya.
Ayumi beranjak dari kursinya, dia lalu mencubit hidung mancung Gackt.
"Kau kekanakkan sekali, Gacchan." katanya tertawa. Gackt pun tersenyum simpul dan bangun dari duduknya, dia memberi ciuman singkat dibibir Ayumi.
"Aku rasa, aku akan sial besok." katanya.
"Baka!"
***
"Yuu?" Hizaki memanggil lemah nama seseorang dengan mata tertutup dikamarnya yang gelap dan hangat, tubuhnya yang terbalut selimut pun berkeringat.
Seorang pemuda yang sedari tadi berdiri mengamatinya, kini duduk diranjang, lalu menyentuh pipi mulus Hizaki perlahan.
"Maaf, yuu~ Maaf~" rintih Hizaki, butiran air mata kini meluncur dari matanya yang terapit kelopak pelindung yang tertutup rapat.
"Sssh~ tidurlah manis~" pemuda itu masih menelusuri pipi mulus Hizaki dengan jemarinya yang kini turun ke leher milik Hizaki. Dia membenamkan wajahnya ke leher jenjang itu.
"Tidurlah selamanya!" bisik pemuda itu dengan nada yang jauh berbeda, dingin, datar dan kejam sambil berseringai.
To be continue~
A/N: akhirnya apdet juga ini penpik hehe~ apa ada yg berpikir nista atas scene Hizaki berkeringat? atau cuma mput aja yg lagi echi otaknya~ *plak* XD
Versailles : European Tour Dates 2010
8 hours ago






